Buntut Series In the Name of God: A Holy Betrayal, Gadis ini Ungkap Hampir Terjebak Sekte JMS!

Kisah In The Name of God berlanjut, seorang pengguna Twitter beberkan cara sekte JMS rekrut jemaat baru.
KPOPCHART.NET - In the Name of God: A Holy Betrayal merupakan sebuah series garapan sutradara Cho Sung Hyun yang mengungkap berbagai sekte sesat yang ada di Korea Selatan.
Mengandeng Netflix sebagai platform penayangannya, In the Name of God: A Holy Betrayal menuai sorotan tak hanya di Korea Selatan tetapi juga di Internasional.
Diketahui In the Name of God: A Holy Betrayal mulai digarap Cho Sung Hyun sejak beberapa tahun silam.
Seorang dengan nama pengguna Twitter @allu0077 membagikan kisahnya yang hampir terjebak ke dalam sekte JMS beberapa tahun silam.
Gadis tersebut bercerita bahwa peristiwa itu terjadi ketika ia berusia 19 tahun dan saat itu ia sedang fokus untuk mempersiapkan ujian masuk penerbangan yang akan diikutinya.
Ketika series In the Name of God: A Holy Betrayal mulai ramai diperbincangkan publik, gadis itu memberanikan diri untuk menonton series tersebut.
Kemudian ia teringat dan segera menilik profil KakaoTalk seorang misionaris perempuan yang dulu kerapkali menemuinya yang ternyata adalah bagian dari sekte JMS.
Ia mengenal misionaris tersebut dari seorang teman yang mengatakan bahwa memiliki seorang kenalan yang bekerja di perusahaan penerbangan dan dapat membantunya untuk wawancara pekerjaan.
Pada saat itu ia hampir putus asa sebab harus menyiapkan segala kebutuhan ujian dan kemampuannya masih jauh dari target kelulusan, jadi menurutnya hal tersebut merupakan sebuah tawaran yang cukup menjanjikan.
Setelah selesai dengan segala kegiatan di sekolah, ia memutuskan untuk mengunjungi Hakwon Academy untuk mempersiapkan ujian dan wawancara seperti yang dilakukan peserta lain.
Ketika telah menyelesaikan persiapan ujian dan wawancara yang akan segera dilaksanakan, ia memutuskan untuk bertemu dengan misionaris perempuan yang dijanjikan oleh temannya di sebuah kafe berlokasi di Gangnam.
Misionaris perempuan tersebut terlihat rapih dan cantik dengan seragam pramugari-nya.
Menilik misionaris perempuan yang terlihat sangat sukses dan berhasil dengan pekerjaan impiannya, membuat ia sepenuhnya percaya dengan mereka.
Awalnya sama sekali tak ada keraguan pada misionaris perempuan tersebut, layaknya sesi wawancara pada umumnya, ia menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh sang misionaris perempuan tersebut dan beberapa kali mendapat makanan gratis darinya.
Kecurigaan itu menyeruak ketika pada saat sesi pembelajaran materi yang dijelaskan tiba-tiba berubah, ia menerangkan 50 persen materi tentang penerbangan dan 50 persen tentang alkitab.
"Awalnya saya tidak keberatan meskipun saya bukan seseorang yang percaya agama apapun," ujarnya.
Meskipun terdengar aneh dan sedikit mencurigakan, ia berusaha mendengarkan apa yang dijelaskan misionaris tersebut guna menghargainya yang mengajar tanpa imbalan sepeser pun.
Namun ketika memasuki pertemuan ke lima, pembelajaran benar-benar berubah menjadi 80 persen pembahasan alkitab dan 30 persen menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan penerbangan.
Hal itu benar-benar di luar jalur dari yang ia rencanakan dari awal, karena berbeda dengan tujuan awalnya yang tertarik dengan profesi pramugari, ia memutuskan untuk tidak mengikuti sesi berikutnya.
Sang misionaris perempuan membombardir-nya dengan berbagai pesan teks yang berisi, "Jika kamu tidak menghargai waktu, kamu tidak pantas menjadi pramugari.
Ingat, ketika kamu lulus ujian nanti, kamilah seniormu. Kalau sekarang saja udah bolos, bagaimana nanti kalau kamu sudah jadi pramugari?," tegas sang misionaris perempuan tersebut.
Ketika hari wawancara semakin dekat, ia memutuskan untuk bertemu dengan sang misionaris perempuan itu lagi karena ia merasa membutuhkan nasehat dan beberapa saran saat melakukan wawancara resmi.
Kemudian ia teringat bahwa misionaris perempuan tersebut pernah mengisi acara sebuah kuliah umum di salah satu perguruan tinggi di Seoul yang ia ikuti sebelumnya.
Acara tersebut diselenggarakan pada hari libur dan tidak dipungut biaya sama sekali. Tentu saja hal itu mengundang banyak peminat untuk mengikuti acara tersebut. Herannya acara tersebut hanya ditujukan untuk siswa yang masih duduk di bangku SMA.
Karena ia mulai lelah dengan pembahasan alkitab yang membuatnya muak dan tak ragu untuk menunjukan ketidaknyamanan-nya sebab hal tersebut benar-benar menyimpang dari tujuan awalnya, sang misionaris perempuan tersebut mulai mentraktir belanja dan memberikannya makeup, barang-barang mewah dan makanan untuk membujuknya. Namun hal itu tak membuatnya tertarik.
Menurutnya, misionaris JMS tersebut menargetkan perempuan muda yang emosinya tidak stabil yang membutuhkan afeksi, cinta, perhatian dan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari keluarga.
Karena ketika pertemuan, ia beberapa kali diminta untuk menuliskan sesuatu yang membuatnya sedih atau menderita.
Ia berharap bahwa pengalamannya bisa menjadi pelajaran dan pengingat bagi siapapun di luar sana untuk selalu berhati-hati dan tidak mudah terperosok ke dalam lubang kejahatan.






Komentar
Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.