← Kembali ke Blog
Dion WiyokoBelajar Bahasa KoreaSore Istri Dari Masa DepanSheila Dara Aishabahasa koreayandy laurens

Sore: Istri dari Masa Depan dalam Bahasa Korea: Perjalanan Menyelami Bahasa dan Cara Pandang

Putra Randy Tirtoatmodjo · July 13, 2025
Sore: Istri dari Masa Depan dalam Bahasa Korea: Perjalanan Menyelami Bahasa dan Cara Pandang

Sore: Istri dari Masa Depan jika ditulis dalam bahasa Korea: Ketika susunan kata mengubah cara pandang.


KPOPCHART.NET - Judul film terbaru karya sutradara Yandy Laurens, “Sore: Istri dari Masa Depan,” terdengar sederhana, namun mampu merangkum inti ceritanya dengan pas. Tapi sebagai pembelajar bahasa Korea, saya langsung penasaran, bagaimana kalau judul film genre drama itu diterjemahkan ke bahasa Korea?

Film produksi Cerita Films ini mengikuti kisah Sore (diperankan Sheila Dara Aisha), seorang perempuan dari masa depan yang datang untuk mengubah kebiasaan dan gaya hidup pasangannya, Jonathan (Dion Wiyoko), sebelum semuanya terlambat.

Demi menghormati teman-teman yang belum menonton film ini, saya tidak akan menceritakan lebih lanjut soal ceritanya agar tidak spoiler. Karena bagi saya sendiri yang sudah menonton, semakin sedikit tahu soal cerita film berdurasi sekitar 1 jam 59 menit itu, semakin seru.

Baca Juga: 5 Idol KPOP Asing yang Memiliki Kemampuan Bahasa Korea yang Bagus, Jadikan Mereka Sebagai Inspirasimu!

Menariknya, judul film ini juga bisa menjadi pintu masuk untuk mempelajari perbedaan unik antara bahasa Indonesia dan bahasa Korea. 

Lantas, bagaimana jika “Sore: Istri dari Masa Depan” diterjemahkan ke bahasa Korea?

Struktur Kalimat Bahasa Indonesia vs Korea: Perbedaan Menarik yang Beri Warna Tersendiri

Seperti kita semua tahu, susunan kata dalam bahasa Indonesia mengikuti pola “Subjek + keterangan.” Sebagai contoh, dalam kata “Istri (yang datang) dari Masa Depan,” kata “Istri” yang merupakan subjek kalimat berada di depan, kemudian diikuti keterangan “(yang datang) dari Masa Depan” di belakangnya.

Namun dalam bahasa Korea, ketika kita hendak menyampaikan kalimat seperti “Istri (yang datang) dari Masa Depan,” kata keterangannya disebutkan lebih dulu, sementara subjeknya berada di posisi paling belakang dalam kalimat.

Singkatnya, “Sore: Istri dari Masa Depan” jika diterjemahkan ke bahasa Korea kurang lebih menjadi:

“소레: 미래에서 온 아내 – So-re: mi-rae-e-seo on a-nae”

Dalam bahasa Korea,

  • Nama “Sore” jika dituliskan dalam hangul (huruf Korea) bisa ditulis “소레 – So-re,”
  • “masa depan” adalah “미래 – mi-rae” (“rae” kurang lebih dilafalkan “re” seperti dalam kata “replika”), 
  • “dari” biasanya memakai partikel “에서 – e-seo” (“seo” kurang lebih dilafalkan “so” seperti dalam kata “sobat”), 
  • “datang” (dalam konteks lampau atau “sudah datang”) adalah “온 – on,” dan 
  • “istri” adalah “아내 – a-nae” (“nae” kurang lebih dilafalkan “ne” seperti dalam kata “nekad”).

Andai mungkin suatu saat film "Sore: Istri dari Masa Depan" berkesempatan di-remake atau diadaptasi ke versi Korea, saya rasa judulnya dibuat seperti ini pun akan tetap menarik.

Syarat Memahami Kalimat Bahasa Korea: Harus Didengarkan sampai Akhir!

Karena perbedaan struktur kalimat antara bahasa Indonesia dan Korea, jika kita menerjemahkan kalimat versi Korea secara “mentah-mentah” alias kata per kata, hasilnya bisa menjadi “masa depan dari datang istri.” Jadi terdengar sangat absurd, bukan?

Baca Juga: Guru Bahasa Ungkap Trik yang Dilakukannya Untuk Buat Lisa BLACKPINK Bisa Jago Bahasa Korea dalam 6 Bulan! Seperti Apa?

Karena pola kalimat seperti itu, umumnya ketika mendengar seseorang berbicara dalam bahasa Korea, kita harus mendengarnya sampai akhir agar bisa menangkap dengan sempurna maksud si pembicara.

Hal ini saya rasa turut memengaruhi kebiasaan orang Korea yang sering berbicara dengan cepat di tengah budaya “빨리 빨리 – ppali-ppali” (cepat-cepat) yang mereka anut, di mana agar lawan bicara dapat lebih cepat menangkap maksud pembicaraan, mereka berbicara dengan cepat.

Sedikit tambahan informasi, dalam kalimat pernyataan aktif pun, susunan kalimat bahasa Korea dan Indonesia memiliki perbedaan.

Penjelasan sederhananya, jika dalam bahasa Indonesia kita menggunakan pola “Subjek, Predikat, Objek,” dalam bahasa Korea, polanya adalah “Subjek, Objek, Predikat.”

Contoh sederhananya, jika kita mau menyebut “Saya mengambil (memotret) foto” dalam bahasa Korea, kita harus menyebutnya:

저는 사진을 찍어요 – jeo-neun sa-jin-eul jji-go-yo

“저는 – jeo-neun” artinya “saya,” “사진 – sa-jin” artinya “foto,” “을 – eul” merupakan partikel yang biasa ditempelkan ke kata benda yang menjadi objek kalimat, dan “찍어요 – jji-go-yo” artinya “memotret.”

Baca Juga: Sudah Belajar Bahasa Selama 6 Tahun, Anggota BABYMONSTER Asal Jepang Ini Bahkan Mengigau dalam Bahasa Korea

Lagi-lagi, jika kita menerjemahkan kalimat Korea ini secara langsung mengikuti pola kalimat bahasa Indonesia, hasilnya mungkin masih bisa dimengerti, tapi tetap terdengar agak janggal, kan?

Bahasa: Lebih dari Sekadar Alat Komunikasi

Dari contoh sederhana perbedaan pola kalimat antara bahasa Indonesia dan bahasa Korea ini, tak berlebihan rasanya kalau kita menyebut bahwa lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa berperan besar dalam membentuk bagaimana para penuturnya melihat dunia.

Namun seperti tujuan mulia Sore datang dari masa depan untuk mengubah gaya hidup Jonathan menjadi lebih baik, saya rasa semua bahasa punya satu tujuan mulia, yaitu menjadi alat komunikasi yang menghubungkan para penuturnya secara emosional.

Seperti kata Nelson Mandela yang begitu memahami kekuatan bahasa, “Jika anda berbicara ke seseorang dalam bahasa yang bisa ia mengerti, itu akan sampai ke kepalanya. Namun jika anda berbicara ke seseorang dalam bahasa ibunya, itu akan sampai ke hatinya.”

Sumber: Kpopchart (Promedia RSS)

Komentar

Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.

Akun komentator

Rekomendasi

Temukan