← Kembali ke Blog
Song Hye Kyo

Song Hye Kyo Kembali Beri Kontribusi Nyata, Donasikan Panduan Sejarah Korea di Saipan dan Tinian

Putra Randy Tirtoatmodjo · April 9, 2025
Song Hye Kyo Kembali Beri Kontribusi Nyata, Donasikan Panduan Sejarah Korea di Saipan dan Tinian

Song Hye Kyo dan Prof. Seo Kyung Deok akan donasikan buku panduan sejarah Korea di Saipan dan Taipan, peringati 80 tahun Korea merdeka.


KPOPCHART.NET - Aktris Song Hye Kyo dan Prof. Seo Kyung Deok dari Sungshin Women’s University akan kembali menunjukkan kontribusi positif mereka dalam upaya pelestarian situs yang berkaitan dengan sejarah Korea di luar negeri.

Dalam rangka memperingati 80 tahun kemerdekaan Korea yang akan jatuh pada 15 Agustus 2025, kedua sosok tersebut akan menyumbangkan buku panduan sejarah Korea ke Saipan dan Pulau Tinian, wilayah Amerika Serikat di Kepulauan Mariana Utara.

Keterkaitan Saipan dan Tinian dengan Sejarah Korea

Seperti dikutip Kpop Chart dari Seoul Shinmun, pada 8 April 2025, Prof. Seo menulis di media sosial pribadinya bahwa dirinya baru mengunjungi Saipan dan Tinian pada pekan lalu.

“Tak banyak orang yang tahu sejarah Korea di tempat yang dikenal luas hanya sebagai destinasi wisata ini,” tulisnya.

Ia menjelaskan dirinya dan Song Hye Kyo akan menyediakan buku panduan sejarah Korea yang akan dibagikan secara daring maupun luring. 

Baca Juga: Song Hye Kyo Bicara Tentang Kehidupan di Usia 43 Tahun dan Pandangannya Terhadap Penuaan

“Di tempat ini, tepatnya di Saipan dan Tinian, terdapat tugu peringatan untuk mengenang warga Korea yang menjadi korban pada masa Perang Dunia Kedua. Tugu tersebut dibangun secara mandiri oleh para warga sipil,” jelasnya.

Prof. Seo melanjutkan bahwa Pulau Tinian, yang pernah menjadi markas militer Jepang, merupakan lokasi di mana banyak warga Korea yang menjadi korban kerja paksa.

Ia mengungkap bahwa lebih dari 5.000 warga Korea menjadi korban pembantaian oleh tentara Jepang, atau dipaksa untuk mengakhiri hidupnya di Tinian.

“Pada masa itu, ada ungkapan di kalangan orang Jepang yang berkata, ‘Orang Jepang nomor satu, warga Okinawa nomor dua, suku Chamorro nomor tiga, babi nomor empat, dan babi itu adalah orang Korea.’ Ungkapan ini menggambarkan bagaimana rasisme dan diskriminasi pada masa itu begitu menyakitkan dan merendahkan martabat warga Korea," ujarnya.

Prof. Seo menekankan bahwa kepedulian masyarakat terhadap situs sejarah di luar negeri adalah hal yang sangat penting. 

Baca Juga: Dibintangi Song Hye Kyo dan Gong Yoo, Netflix Rilis Lineup Resmi Pemeran Drama Show Business

“Kondisi pelestarian situs-situs bersejarah Korea di luar negeri tidak bisa dibilang baik. Perhatian dan kunjungan rutin masyarakat Korea adalah kekuatan terbesar untuk menjaga kelestarian situs-situs sejarah tersebut,” kata akademisi kelahiran 25 Mei 1974 itu.

Proyek ini akan menjadi bagian dari rangkaian tiga kegiatan yang dilakukan Prof. Seo untuk memperingati 80 tahun kemerdekaan Korea.

Rekam Jejak Kolaborasi Prof. Seo dan Song Hye Kyo dalam Upaya Pelestarian Sejarah Korea

Sejak 2012, Prof. Seo dan Song Hye Kyo aktif menjalankan proyek donasi berupa buku panduan berbahasa Korea, papan informasi yang ditulis dalam hangeul (huruf Korea), dan relief seni di 37 lokasi yang berhubungan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Korea di mancanegara.

Keduanya juga telah menyumbangkan buku panduan berbahasa Korea ke museum-museum dan galeri seni ternama dunia seperti MoMA di New York, LACMA di Los Angeles, Museum Seni Boston, dan Royal Ontario Museum di Toronto, Amerika Serikat.

Song Hye Kyo Pernah Tolak Tawaran Iklan dari Perusahaan Pelaku Kejahatan Perang

Pada 2016, Song Hye Kyo sempat mendapat tawaran menjadi model iklan Mitsubishi di Tiongkok. Namun ia dengan tegas menolaknya karena perusahaan itu sedang menghadapi gugatan hukum atas keterkaitannya dengan kerja paksa warga Korea saat Perang Dunia II.

Baca Juga: Deretan Idol dan Artis yang Tampil Fresh dengan Rambut Pendek, Ada Karina aespa hingga Song Hye Kyo

Penolakan aktris kelahiran Daegu tersebut mendapat sorotan publik. Bahkan kabarnya, salah satu nenek korban kerja paksa itu sempat mengirimkan surat terima kasih kepadanya. 

Ketika itu. agensi yang menaungi Song Hye Kyo, UAA, menyatakan bahwa mereka tegas menolak tawaran untuk menjadi model dari perusahaan yang berhubungan dengan kejahatan perang di masa lalu.

“Kami tidak pernah mempertimbangkan untuk menjadi model dari perusahaan pelaku kejahatan perang seperti Mitsubishi,” kata pihak UAA saat itu seperti dikutip Kpop Chart dari Seoul Shinmun.

Prof. Seo mengungkap bahwa Song Hye Kyo sendiri yang menghubunginya untuk memastikan apakah Mitsubishi adalah perusahaan pelaku kejahatan perang. 

“Ia adalah aktris luar biasa yang tahu bagaimana mencintai dan menjaga budaya, serta sejarah bangsanya,” puji Prof. Seo.




Sumber: Kpopchart (Promedia RSS)

Komentar

Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.

Akun komentator

Rekomendasi

Temukan