Perempuan Korea menuntut Kesetaraan dan Lingkungan yang Inklusi, setelah pemakzulan Yoon Suk Yeol

Perempuan di Korea menuntut Kesetaraan setelah pemakzulan Yoon Suk Yeol. Masih banyak kejahatan seksual yang merugikan perempuan di Korea.
KPOPCHART - Seorang pekerja kantoran dari Seoul bernama Park, dengan semangat menunggu putusan akhir Mahkamah Konstitusi terkait pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol akhir bulan ini.
Perempuan 34 tahun ini telah lama menunggu momen tersebut. Pasalnya, setelah terpilihnya Yoon dengan agenda misoginisnya, para perempuan banyak yang menjadi korban dari pemerintahannya. Mereka yang menjadi korban, harus memimpin dalam menjatuhkannya.
Partai Demokrat Korea (DPK) telah membuat janji tentang hak-hak perempuan selama pemilihan terakhir. Tapi, belum mengatakan sepatah kata apapun.
Baca Juga: Son Ye Jin Menunjukkan Foto Anaknya Ke Publik Untuk Pertama Kalinya Dalam Acara YouTube Ini!
Perempuan muda Korea Selatan 20an dan 30an telah mendapat perhatian lokal maupun internasional karena kehadiran mereka yang kuat selama pergolakan politik baru-baru ini.
Seorang mahasiswa bernama Song yang memimpin protes kampus, mengungkapkan sentimen yang mirip dengan Park.
Ia menekankan adanya diskriminasi dan kekerasan tersebar dalam kehidupan perempuan di Korea.
Hal ini sangat bertentangan dengan klaim Yoon yang mengatakan bahwa diskriminasi gender stuktural tidak lagi ada di negara tersebut.
Masih banyak kejahatan seksual yang merajalela seperti pornografi, insiden kamera mata-mata, dan pelanggaran lain yang difasilitasi teknologi yang merugikan perempuan.
Baca Juga: Makin Panas! ADOR Klaim Telah Memberikan 5 Miliar KRW Kepada NJZ, Knetz Sebut Mereka Tidak Bersyukur
Pada 2022, DPK merekrut tokoh-tokoh feminis muda seperti Park Ji-hyun yang berperan dalam menangani kasus kejahatan seksual besar, termasuk Nth Room.
Namun ketika dirinya mengkritik partainya karena kesalahan dalam menangani kasus pelanggaran seksual internal, DPK menuduhnya menjadi perpecahan internal dan membungkamnya, serta menyingkirkan posisinya.
Menyaksikan peristiwa ini, Park merasa telah menyadari baik PPP maupun DPK tidak benar-benar mengadvokasi perempuan.
Baca Juga: Lee Je Hoon Ungkap Sisi Fanboy Untuk Pertama Kalinya di Hells Club, Akui Ngefans Aktris Ini!
Park, Song, dan beberapa pembicara yang hadir di rapat umum pemakzulan berbagi harapan bahwa pemerinta berikutnya bisa membangun masyarakat minoritas sosial, termasuk perempuan agar dapat hidup dengan aman dan terbebas dari diskriminasi.
Untuk mencapai hal ini, UU antidiskriminasi yang komprehensif yang lama diabaikan oleh politisi Korea, dapat berdiri sebagai salah satu kebijakan utama.***






Komentar
Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.