Keliling Dunia Lewat Puisi di Subway Seoul Bareng We are Diplomats, Karya Penyair Indonesia Ikut Mejeng!

Keliling dunia lewat puisi di Subway Seoul bareng We are Diplomats dari Arirang TV, ada penyair indonesia juga!
KPOPCHART.NET- Pernah kebayang gak, ketika sedang menunggu kereta di stasiun Subway Seoul, kamu menangkap sebuah bait puisi dari negara lain? Bukan sekedar ide, Arirang TV mewujudkan ide ini dalam program mereka We are Diplomats.
Program acara ini adalah proyek PD Nanuri, produser ahli diplomatik dari Arirang TV. Sudah memasuki episode ketiga, We are Diplomats mengajak penonton menjelajahi dunia sastra Asia lewat puisi-puisi yang di pajang di berbagai stasiun subway.
Para diplomat dari India, Malaysia, dan Indonesia ikut serta dalam projek ini membahas karya sastra negaranya masing-masing dan kenapa karya-karya ini layak diperkenalkan ke masyarakat Korea.
Baca Juga: Keren! Zayyan Xodiac dan Kim VVUP Sukses Jadi MC Acara Musik Show Arirang, Begini Penampilan Mereka
Jika di episode sebelumnya, We are Diplomats membawa penonton bertemu para penyair dan karya-karya mereka dari Eropa, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, episode kali ini berfokus pada karya sastra di Asia.
Di stasiun Hangangjin dan Oksu, ada puisi dari penyair legendaris India, Rabindranath Tagore, dengan syairnya Gitanjali. Tagore ini bukan cuma seorang penyair, tapi Ia juga pelukis, pemahat, bahkan pemikir yang punya pandangan luas tentang hubungan internasional.
Amit Kumar, Duta besar India untuk Korea, menyebutkan kalau alasan Gitanjali dipilih karena punya pesan optimisme dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Hal menariknya lagi, Tagore ternyata memiliki ikatan sejarah dengan Korea. Di masa penjajahan, ia menulis puisi yang berjudul The Lamp of East of the East, yang memberikan semangat untuk kebangkitan Korea di Asia.
Baca Juga: Cara Member XODIAC Memperlakukan Zayyan di Arirang Live Jadi Sorotan Netizen: Sebenernya...
Dari negara Malaysia, di stasiun yang sama, karya klasik Hamzah Fansuri, dipilih untuk masuk ke projek ini. Ia merupakan penyair abad ke-16 yang dikenal sebagai pelopor puisi Melayu.
Puisinya yang berjudul Ferryboat menggambarkan perjalanan hidup dan pencarian makna yang masih relevan hingga sekarang.
Izan Idayu Yusof selaku sekretaris kedua kedutaan Malaysia di Korea, bilang menampilkan karya sastra di ruang publik seperti subway bisa memicu rasa ingin tahu orang-orang. Mana tahu, awal cuma sekilas membaca, malah jadi tertarik untuk tahu lebih dalam soal budaya Malaysia.
Dari Indonesia, Chairil Anwar dipilih untuk di pajang di stasiun Jichacheon. Alasan dipilihnya penyair legendaris Indonesia ini oleh Kedutaan Besar Indonesia di Korea, bukan sekedar penyair biasa, tapi juga simbol perjuangan nasional.
Puisinya yang berjudul Aku punya kesan kuat tentang keberanian dan identitas diri, sesuatu yang bisa dirasakan semua orang, termasuk di Korea.
Zelda Wulan Kartika, bagian Duta Besar Indonesia untuk Korea, menegaskan kepada PD Na, bahwa "Chairil Anwar lebih dari sekedar penyair. Dia adalah seorang tokoh budaya dan sejarah, dan sosok yang dihormati dan dihargai oleh semua generasi Indonesia. Dia juga merupakan bapak puisi modern Indonesia dan simbol perjuangan nasional untuk kemerdekaan selama masa penjajahan."
Zelda juga menyoroti bagaimana sastra Korea juga sempat booming di Indonesia. Salah satunya adalah buku karya Baek Se Hee yang berjudul I Want to Die, but I Want to Eat Tteokbokki sukses diterbitkan berulang kali di Indonesia.
We are Diplomats menjadi acara yang menunjukkan kalau sastra bisa jadi alat diplomasi yang unik. Lewat puisi, kita bisa kenal budaya dan sejarah negara lain dengan cara yang lebih santai.
Puisi di Subway untuk Diplomasi lewat sastra yang dihadirkan dalam We are Diplomats Arirang TV episode ini tayang pada 20 Januari lalu pukul 19.00 KST (17.00 WIB) dan akan berlanjut sampai 27 Januari nanti.
Untuk kamu yang suka sama sastra atau sekedar kepo sama puisi di subway Seoul, program ini wajib cocok untuk kamu tonton.
Baca Juga: Film The Match yang Tunda Penayangan Dampak Skandal Yoo Ah In, Siap Tayang Bulan Maret Mendatang!






Komentar
Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.