← Kembali ke Blog
perempuanidolKorea Selatanhiburan

Tak Ada Tempat Aman Bagi Idol Kpop Perempuan, Penggemar Secara Massal Minta Takedown Editan Berbahaya

Carolyn Nathasa Dharmadhi · August 30, 2024
Tak Ada Tempat Aman Bagi Idol Kpop Perempuan, Penggemar Secara Massal Minta Takedown Editan Berbahaya

Industri hiburan Korea Selatan, yang dikenal dengan standar kecantikan tinggi, kini tengah dilanda permasalahan serius akibat Deepfake.


KPOPCHART.NET — Industri hiburan Korea Selatan yang dikenal dengan standar kecantikan yang tinggi dan persaingan yang ketat kembali diguncang oleh kasus pelecehan digital terhadap para idol perempuan.

Kali ini, penggemar dari berbagai fandom bersatu dalam upaya melindungi artis mereka dari penyebaran editan berbahaya di platform media sosial, terutama di grup Telegram.

Berbagai laporan menyebutkan adanya peningkatan kasus di mana foto dan video para idol perempuan diedit secara tidak senonoh dan disebarluaskan secara massal di grup-grup Telegram. Tindakan ini tidak hanya melanggar privasi para idol, tetapi juga merupakan bentuk pelecehan seksual yang serius.

Baca Juga: Miris, Seorang Remaja Korea Selatan Jadi Korban Asusila di Media Sosial? Begini Kronologinya!

Sebuah grup Telegram dengan lebih dari 227 ribu anggota telah ditemukan, di mana para anggotanya dengan sengaja membuat konten asusila palsu menggunakan teknologi deepfake.

Tak hanya pada idol perempuan, kasus ini juga menyerang perempuan dari usia sekolah, anak di bawah umur, dan dewasa di Korea Selatan sehingga tak ada lagi tempat yang aman bagi perempuan untuk bersuara di media sosial. 

Baca Juga: Terungkap Taeil Eks NCT Tetap Melakukan Siaran Langsung Sehari setelah Ditangkap Polisi dan Tuai Kritik KNetz!

Seorang jurnalis menemukan banyak video asusila palsu gadis-gadis muda dari berbagai usia bahkan dari taman kanak-kanak sampai dewasa hingga masuk ke kalangan idol K-Pop, dan 76 persen anggota grup ini adalah remaja dan mengirimkan video atau gambar tersebut dari berbagai sekolah menengah. 

Karena hal ini, Korea Selatan sedang membicarakan untuk membuat undang-undang untuk akhirnya memberikan keadilan bagi semua wanita dari grup ini karena saat ini mereka tidak aman dan siapa saja bisa berada di grup ini.

Pemerintah Korea Selatan juga telah menanggapi isu ini dengan serius. Sebelumnya, presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol juga telah menetapkan tindakan keras terhadap epidemi kejahatan seksual digital yang menargetkan perempuan dan anak perempuan yang tanpa disadari menjadi korban konten asusila palsu.

Kekhawatiran presiden terhadap penggunaan aplikasi pesan Telegram, yang baru-baru ini dilaporkan oleh media Korea Selatan, untuk membuat dan membagikan gambar dan video palsu yang eksplisit secara seksual, muncul di tengah-tengah peringatan bahwa semua wanita berpotensi menjadi korban.

Polisi akan “secara agresif” menangkap orang-orang yang membuat dan menyebarkan materi tersebut dalam kampanye tujuh bulan yang akan dimulai pada hari Rabu (28/08/2024), kata kantor berita Yonhap, dengan fokus pada mereka yang mengeksploitasi anak-anak dan remaja.

Setelah perjuangan panjang untuk membasmi molka - materi yang direkam secara diam-diam yang bersifat asusila, Korea Selatan kini berjuang melawan konten deepfake yang bersifat asusila dan dipalsukan.

Baca Juga: Siswa SMA Korea Ini Ditahan Karena Buat Konten Deepfake Gurunya Sendiri, Knetz Ungkap Kesal

“Video deepfake yang menargetkan individu yang tidak ditentukan telah menyebar dengan cepat melalui media sosial,” kata presiden Yoon dalam sebuah rapat kabinet, menurut kantornya. “Banyak korban adalah anak di bawah umur, dan sebagian besar pelaku juga diidentifikasi sebagai remaja.” ujarnya.

Tindakan tidak bertanggung jawab ini telah memicu kemarahan besar di kalangan penggemar K-Pop. Para penggemar merasa sangat terluka dan marah melihat idol yang mereka cintai dijadikan objek pelecehan dan perbuatan asusila.

Sebagai bentuk protes dan tuntutan perlindungan, para penggemar pun secara masif menggalang kekuatan di media sosial dengan menaikkan tagar seruan kepada agensi untuk melindungi artis mereka dari pelecehan dan isu yang terjadi.

Dalam situasi ini, para penggemar mendesak agensi untuk mengambil tindakan tegas dalam melindungi artis mereka.

Selain itu, platform media sosial seperti Telegram juga diharapkan dapat meningkatkan sistem mereka untuk mencegah penyebaran konten-konten yang melanggar aturan. Platform media sosial juga harus meningkatkan upaya dalam moderasi konten dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pengguna, terutama terhadap konten yang bersifat eksploitatif.

Selain dampak psikologis yang mendalam bagi para idol, penyebaran konten-konten berbahaya ini juga berpotensi merusak reputasi dan karier mereka. Para pelaku tidak hanya melanggar privasi, tetapi juga melakukan tindakan kriminal yang dapat berujung pada tuntutan hukum.

Di sisi lain, kasus ini juga menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan masyarakat. Penggemar diharapkan dapat bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak ikut menyebarkan konten yang merugikan orang lain. 

Para penggemar berharap kasus ini dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk bersatu melawan segala bentuk kekerasan dan pelanggaran terhadap perempuan. Dengan meningkatkan kesadaran dan kerja sama, diharapkan tindakan seperti ini dapat dihentikan.

Sumber: Kpopchart (Promedia RSS)

Komentar

Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.

Akun komentator

Rekomendasi

Temukan