Miris, Seorang Remaja Korea Selatan Jadi Korban Asusila di Media Sosial? Begini Kronologinya!

Seorang remaja Korea Selatan jadi korban asusila di media sosial oleh sebuah akun anonim? Seperti apa ya, kronologinya?
KPOPCHART.NET - Seorang gadis remaja berusia 17 tahun (sebut saja Song), telah menjadi korban asusila di media sosial.
Bermula ketika Song sedang asyik mengunggah foto dan video kebersamaannya dengan teman-temannya di media sosial, hingga sebuah akun anonim mengirim pesan tersembunyi berupa 3 foto kepada Song.
Betapa terkejutnya Song ketika melihat foto-foto tersebut adalah foto-foto Song yang eksplisit secara seksual.
Song mengaku bahwa itu bukan dirinya, tetapi itu diedit dengan menggunakan deepfake seakan-akan itu benar dirinya.
"Saya kaget dan langsung takut pas lihat foto-foto itu. Saya tahu itu foto palsu yang dibuat-buat, tapi foto-foto itu kayak beneran." ungkap Song.
"Saya sudah memberi tahu kalau itu bukan saya. Bahkan saya meminta beberapa dari mereka untuk membantu saya, tapi mereka malah "bersemangat". Pesan-pesan itu terus muncul, dan tuntutan mereka semakin buruk setiap hari." lanjut Song.
Baca Juga: Miris! Seorang Pria Diduga Oknum Tentara di Korea Selatan Tega Menikam Orangtua Mantan Pacarnya?
Menurut Institut Hak Asasi Manusia Perempuan Korea, terdapat 2.154 orang meminta bantuan ke Pusat Advokasi untuk Korban Asusila Daring berbentuk deepfake sejak April 2018 hingga Minggu (25/8/2024) dengan sebagian dari mereka adalah anak di bawah umur.
"Kami akan bertindak tegas terhadap kejahatan asusila deepfake di sekolah." ungkap Kementerian Pendidikan pada (28/8).
"Hukuman bagi pelaku mencakup pengusiran, sampai hukuman tertinggi dari 9 tingkatan hukuman untuk siswa sekolah menengah yang terlibat kekerasan di sekolah." lanjutnya.
Tak hanya itu, Kementerian juga akan menurunkan satuan tugas darurat untuk menanggapi kejahatan asusila deepfake mulai (27/8) yang nantinya akan menyelidiki kejahatan yang melibatkan deepfake setiap minggu, menangani laporan yang disampaikan korban, memberi dukungan psikologis untuk para korban, meningkatkan kesadaran tentang buruknya kejahatan semacam itu di sekolah, dan memperkuat etika dan akuntabilitas digital.






Komentar
Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.