← Kembali ke Blog
LE SSERAFIMBahiyyihKep1erLee Jaewookparasosial

Mencoba Mengerti Kultur Fandom Toksik yang Membahayakan Berbagai Pihak dan Jadi Salah Satu Sisi Gelap Budaya Pop Korea

Carolyn Nathasa Dharmadhi · May 25, 2024
Mencoba Mengerti Kultur Fandom Toksik yang Membahayakan Berbagai Pihak dan Jadi Salah Satu Sisi Gelap Budaya Pop Korea

Ada beberapa hal yang tak bisa dihindari sebagai bagian dari fandom yaitu fenomena fandom K-Pop yang obsesif dan membahayakan idola mereka.


KPOPCHART.NET — Di balik gemerlapnya industri KPop, terdapat sisi gelap yang tak terelakkan yaitu fenomena fandom toksik.

Penggemar yang terobsesi secara berlebihan dan berperilaku agresif, bahkan kriminal, telah menjadi pokok pembicaraan bagi idola, komunitas penggemar, dan reputasi KPop secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, menjadi bagian dari fandom dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan mental, seperti meningkatkan rasa memiliki, kepercayaan diri, mood, dan kreativitas.

Hanya saja, tidak semua fandom dapat memberikan manfaat tersebut. Ada juga fandom yang memang memiliki fandom yang toksik.

Sebagai contoh, dilansir dari BBC, Karina aespa menulis surat kepada penggemarnya dengan tulisan tangan melalui postingan Instagram pribadinya pada awal Maret lalu. Surat tersebut  berisi permintaan maafnya yang mendalam karena isu tersebut.

"Saya dengan tulus meminta maaf karena telah mengejutkan para penggemar yang telah mendukung saya," tulis leader dari aespa ini.

Hal tersebut merujuk pada kabar bahwa Karina aespa berpacaran dengan aktor kenamaan Korea Selatan, Lee Jaewook yang terungkap pada Maret lalu.

BBC juga menulis bahwa Karina terpanggil untuk meminta maaf karena menjalin hubungan telah membingungkan banyak orang di luar industri KPop, namun hal ini membuka wawasan baru tentang fandom dalam industri ini.

Baca Juga: Karina aespa Tiba-tiba Hapus Postingan Surat Permintaan Maaf Atas Skandal Datingnya dengan Lee Jae Wook di Instagram, Kenapa?

Menurut Cambridge Dictionary, fan adalah seseorang yang mengagumi seseorang atau sesuatu, terutama yang memiliki antusiasme yang begitu tinggi.

Sementara fandom merupakan sebuah komunitas atau kelompok pengagum yang antusias terhadap orang, minat, atau aktivitas yang sama.

Penekanan pokok bahasan dari minat fandom dapat dicirikan sebagai orang-orang yang memiliki minat dan antusiasme yang sama terhadap satu idola, hobi, genre, atau model.

Istilah fandom telah berkembang luas dan khas di dunia KPop, terutama dengan pertumbuhan global budaya Korea, dan sering dihubungkan dengan kelompok penggemar idola Korea.

Para penggemar ini biasanya melakukan streaming musik idola favorit mereka sepanjang waktu untuk mendongkrak peringkat tangga lagu, mengorganisir sesi pemungutan suara massal selama musim penghargaan, dan terkadang bahkan mensponsori iklan papan iklan digital di tempat-tempat seperti Times Square, New York, atau tempat terkenal lainnya.

Namun, siapa sangka hal ini justru membawa sifat fandom ke arah yang toksik. Mengambil contoh yang dialami oleh Karina aespa, BBC menyebut bahwa para penggemar toksik ini seringkali terjebak dalam hubungan parasosial.

"Para penggemar merasa dikecewakan," kata kolumnis media Korea, Jeong Deokhyeon yang juga menambahkan bahwa para penggemar Kpop sering kali menganggap diri mereka memiliki hubungan parasosial dengan idola mereka.

Layaknya hubungan sepihak, di mana satu pihak menghabiskan banyak waktu, energi emosional, dan uang untuk orang lain yang membuat mereka tertarik namun mungkin tidak menyadari keberadaannya.

Baca Juga: Waktunya Semua Fandom Bersatu, Trendingkan Cancel The Screening In Israel di X Fans Dibuat Geram Akan Kelakuan HYBE

"Ketika bisnis dalam industri ini mendorong para penggemar untuk menunjukkan antusiasme mereka melalui belanja, kebutuhan mereka untuk 'dibayar' (untuk investasi mereka) berkembang. Hal ini menyebabkan para penggemar membuat tuntutan yang mengarah pada ancaman," kata Jeong kepada BBC.

Ketika Karina dikabarkan berpacaran dengan Lee Jaewook, tak jarang ada penggemar toksik yang melemparkan pelecehan fisik dan verbal terhadap idola atau bahkan orang lain yang dianggap dekat dengan idola mereka. Hal tersebut merupakan tindakan ekstrem yang tak jarang dilakukan oleh penggemar toksik.

Menurut Cedarbough Saeji dari Pusan National University, kejadian yang dialami Karina adalah "Kasus klasik dari para penggemar yang mencoba 'mendisiplinkan' para idola". Penggemar seolah-olah memiliki kuasa untuk menyetir hidup idola mereka.

"Mereka marah tentang berita kencan tersebut, dan kemudian mereka marah karena dia (Karina) meminta maaf dengan cara yang 'salah'," kata Saeji, asisten profesor di bidang Kajian Korea dan Asia Timur, menyinggung bagaimana beberapa penggemar percaya bahwa Karina seharusnya menyampaikan permintaan maafnya di forum khusus penggemar, bukan di platform publik.

Saeji juga menyebut bahwa privasi untuk bintang Kpop yang tinggal di negara kecil seperti Korea Selatan dan saat ini sudah dikenal luas semakin sulit untuk dilindungi.

Informasi yang tersebar begitu luas di internet akhirnya dimanfaatkan oleh penggemar toksik untuk melindungi atau bahkan menyerang orang-orang yang tak sejalan dengan apa yang mereka yakini.

Kadang-kadang, tindakan mereka mengganggu warganet atau anggota fandom lainnya. Mereka tidak peduli jika idolanya diserang, dihujat, atau hal-hal lain. Mereka segera bertindak sebagai tameng bagi idolanya, dan seringkali tindakannya lebih kejam dan tidak terduga. Mereka melakukan hal ini untuk melindungi idolanya.

Bahkan tak jarang juga ada penggemar toksik yang berubah menjadi sasaeng (penguntit). Hal tersebut merupakan tindakan yang berbahaya dan ilegal, namun tak jarang dilakukan oleh penggemar toksik.

Kultur fandom toksik ini memang membahayakan berbagai pihak, termasuk idola mereka sendiri. Kisah lainnya juga menimpa anggota Kep1er Huening Bahiyyih yang diikuti orang ketika sedang berbelanja. Ia mengira kalau orang tersebut adalah penggemarnya, hanya saja adik dari Huening Kai TXT tersebut merasa tak nyaman karena terus diikuti.

Baca Juga: Heuning Bahiyyih Kep1er Ungkap Momen Menakutkan Dikuntit Saat Shopping: Aku Beneran Mikir...

Lalu, fandom toksik sering kali menyerang orang lain secara online, baik itu sesama penggemar, kritikus musik, atau bahkan media massa, yang dianggap tidak menyukai atau menghina idola mereka. 

Perundungan ini terjadi kepada grup besutan Source Music, LE SSERAFIM. Banyak orang dari fandom yang toksik merundung dengan dalih kritik kepada setiap penampilan mereka. Kritik yang ditujukan kepada LE SSERAFIM tampaknya telah melewati ambang batas kewajaran. Kebanyakan hal ini dilakukan oleh penggemar toksik dari grup NewJeans dan aespa terhadap LE SSERAFIM.

"Sejujurnya, seluruh komunitas internet dan media bekerja keras untuk menjatuhkan nama baik LE SSERAFIM sehingga saya khawatir para anggota akan mempertimbangkan untuk mengambil 'pilihan ekstrim'.

Orang-orang terus menerus mengungkit nama mantan anggota yang terlibat dalam skandal perundungan di sekolah dan mengklaim bahwa seharusnya dia menyalahkan Hong Eunchae. Beberapa orang bahkan mendesak untuk mencegah LE SSERAFIM masuk ke negara ini seolah-olah mereka adalah penjahat," tulis seorang OP dalam laman TheQoo.

"Ada perbedaan antara kritik yang membangun dan bullying. Saya rasa ini bukan lagi tentang masalah vokal mereka," tulis OP lainnya.

Bahkan para penggemar internasional percaya bahwa komentar yang diterima LE SSERAFIM tidak pantas dan melebihi batas wajar. Beberapa dari mereka bahkan mulai mencegah para penggemarnya untuk merendahkan LE SSERAFIM secara berlebihan.

Baca Juga: Masih Dikritik Soal Penampilan Panggung, Pernyataan Eunchae LE SSERAFIM di Majalah Weverse Disorot Balik

Mengatasi fenomena fandom toksik membutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak baik dari agensi, penggemar, media, dan industri itu sendiri. 

Industri KPop dan agensi perlu meningkatkan keamanan idola dan mengambil tindakan tegas terhadap perilaku toksik dari penggemar, seperti mengeluarkan larangan menghadiri konser atau pembatalan akun media sosial.

Selain itu, komunitas penggemar juga perlu memberikan edukasi kepada para penggemar di dalamnya tentang perilaku yang sehat dan bertanggung jawab.

Media juga dapat berperan dalam membangun komunikasi yang terbuka dan konstruktif dengan memberikan informasi yang objektif dan seimbang tentang industri KPop dan fandomnya, menghindari sensasionalisme dan glorifikasi perilaku toksik.

Ada baiknya sebagai penggemar juga perlu belajar untuk mengekspresikan kecintaan mereka dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab, serta menghargai batasan antara idola dan penggemar agar terhindar dari perilaku fandom toksik. 

Lalu, penting juga untuk selalu menjaga interaksi antar anggota fandom ataupun penggemar luar lainnya dengan cara yang sehat dan positif.

Fenomena fandom toksik bukanlah bagian dari budaya pop Korea yang semestinya. Dengan kolaborasi dan kesadaran dari berbagai pihak, budaya penggemar KPop dapat menjadi lebih positif dan inklusif, di mana semua orang dapat menikmati musik dan mendukung idola mereka dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab.

Jadi, apakah kamu sudah bijak sebagai penggemar dan anggota sebuah fandom?

 

Sumber: Kpopchart (Promedia RSS)

Komentar

Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.

Akun komentator

Rekomendasi

Temukan