← Kembali ke Blog
dokumenter BBCGoo HaraBurning SunSeungri

Hubungan Kasus Burning Sun yang Seret Goo Hara dengan Realitas Kelam Perempuan di Industri Hiburan Korea

Carolyn Nathasa Dharmadhi · May 22, 2024
Hubungan Kasus Burning Sun yang Seret Goo Hara dengan Realitas Kelam Perempuan di Industri Hiburan Korea

Apakah industri hiburan Korea aman bagi perempuan? Temukan realitanya, dari skandal hingga perlindungan, dalam analisis mendalam ini.


KPOPCHART.NET — Publik kembali dibuat gempar dengan hadirnya dokumenter BBC mengenai kasus Burning Sun yang ramai dibicarakan sejak 2019. Dalam dokumenter berjudul "Burning Sun: Exposing the secret K-pop chat groups", mereka menyorot bagaimana ketidakamanan meliputi para korban yang adalah perempuan.

Film dokumenter BBC yang telah tayang sejak 19 Mei 2024 lalu telah mendapat perhatian luas dengan lebih dari 3,6 juta penayangan di YouTube pada hari Selasa, hanya dua hari setelah penayangan perdananya.

Hal ini yang mengindikasikan ketertarikan global yang berkelanjutan terhadap konsekuensi skandal tersebut dan dampaknya terhadap industri hiburan Korea.

Kasus ini menyeret sejumlah nama bintang besar Korea Selatan seperti Seungri ex BIGBANG, Choi Jonghoon ex FT ISLAND, dan solois Jung Joonyoung. 

Para pelaku sudah dibebaskan setelah dokumenter BBC tayang, bahkan mirisnya ada juga pelaku yang masih eksis di dunia hiburan.

Hal ini ironis sekaligus menggugah emosi di waktu yang sama. Industri hiburan Korea Selatan bukan lagi tempat yang aman bagi perempuan.

Mendiang idol KPop Goo Hara juga kembali menjadi sorotan publik setelah dokumenter ini muncul. Namanya disebut dalam film dokumenter berdurasi 1 jam tersebut.

Baca Juga: Komentar Idol Wanita Tentang Seungri dalam Klip Lawas jadi Viral di Tengah Rilisnya Dokumenter Burning Sun

Sayangnya, ketika mengangkat kasus tersebut, para reporter yang terlibat juga mendapat tekanan dan cyberbullying dari para penggemar artis yang menjadi pelaku sehingga mengalami berbagai kejadian tidak menyenangkan.

Park Hyosil dan Kang Kyungyoon, dua jurnalis wanita yang tinggal di Korea Selatan, mengalami perubahan dalam hidup mereka saat mereka membongkar kasus asusila yang melibatkan beberapa artis Kpop terkenal.

Mendiang Goo Hara rupanya memainkan peran penting dalam pengungkapan kasus Burning Sun yang terjadi pada 2019 lalu. Dalam dokumenter tersebut, reporter Kang Kyungyoon yang meliput kasus itu juga menjelaskan proses peliputan.

Reporter Kang juga membahas kehadiran petugas polisi berpangkat tinggi di ruang obrolan grup antara Seungri, Jung Joonyoung, dan Choi Jonghoon. Hal lain yang menjadi sorotan di dalam dokumenter tersebut adalah fakta bahwa Goo Hara berteman dekat dengan Choi Jonghoon sejak debut.

Menurut reporter Kang, Goo Hara adalah sosok yang berani. Dia ingin membantu reporter Kang karena dirinya juga merupakan korban perbuatan asusila yang dilakukan oleh mantan pacarnya.

Namun sayangnya, Goo Hara berulang kali mengalami pelecehan dan dieksploitasi oleh mantan pacarnya. Tekanan luar biasa dari warganet juga turut andil dalam kematiannya akibat bunuh diri pada 2019 lalu. Kematiannya menjadi pengingat tragis tentang bahaya yang dihadapi perempuan di industri hiburan Korea.

Kasus Goo Hara hanyalah puncak dari gunung es yang ada di industri ini. Faktanya, masih banyak perempuan lain yang mengalami pelecehan dan ketidakadilan dalam diam. Banyak perempuan menjadi takut untuk berbicara karena khawatir kehilangan pekerjaan atau reputasi mereka.

Baca Juga: Skandal Besar yang Terjadi dalam Industri Hiburan Korea! Mana yang Lebih Menghebohkan?

Industri hiburan Korea Selatan memiliki budaya patriarki yang kuat, di mana laki-laki mendominasi posisi kekuasaan dan perempuan sering dilihat sebagai objek daripada individu. Hal ini menciptakan lingkungan yang tidak aman dan tidak suportif bagi perempuan.

Rupanya, inilah realita di balik gemerlapnya dunia KPop dan KDrama. Ada berbagai realitas kelam yang dihadapi perempuan di industri hiburan Korea.

Kemudian adanya tekanan bagi idola perempuan untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis dan budaya patriarki yang masih kuat sehingga menciptakan lingkungan yang tidak aman dan penuh tekanan bagi perempuan.

Ditambah juga dengan maraknya berbagai kejadian pelecehan, diskriminasi gender, dan objektivikasi perempuan di industri ini. Perempuan dipaksa untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis, mengalami pelecehan verbal dan fisik, dan didiskriminasi dalam hal gaji dan kesempatan.

Penindasan dari internet dan tekanan dari industri ini juga kerap dialami perempuan yang berkarier di dalamnya. Hal ini dapat berupa pelecehan verbal, ejekan, dan pengucilan, yang menciptakan lingkungan fandom dan kerja yang tidak sehat dan penuh rasa permusuhan.

Contoh lainnya juga melibatkan girl group generasi keempat, LE SSERAFIM dan ILLIT. Kedua grup ini mendapat hate train karena penampilan vokal mereka. Meski sudah mengalami peningkatan, tak jarang juga mereka mendapat 'kritikan' dari warganet yang melontarkan istilah jahat dan ujaran kebencian atas pencapaian mereka.

Bahkan ada juga yang melontarkan istilah kasar dan mempermalukan yang ditujukan bagi member-member yang masih di bawah umur. Tentunya, hal ini semakin membuat industri hiburan Korea bukanlah tempat yang aman bagi para idola perempuan. 

Baca Juga: Aksi Wonhee ILLIT Report Hate Coment saat Siaran Langsung Diduga Paksaan dari HYBE, Poin Simpati?

Dalam artikel yang ditulis oleh Kim Gooyong pada Oktober 2018, penulisnya menyebutkan bahwa kehadiran girl group mencerminkan formasi sosial Korea yang berhaluan neoliberal.

Para pemangku kepentingan industri Kpop mengambil keuntungan dengan menempatkan keselamatan dan nyawa para artis perempuan dalam bahaya.

Mereka juga mempromosikan kompetisi yang kejam dan kewirausahaan mandiri sebagai sarana pencapaian pribadi, yang berkontribusi pada kesuksesan dan popularitas industri ini.

Kim Gooyong juga menyebut bahwa grup-grup idola Kpop adalah produk strategis dari perkembangan kapitalisme Korea yang neoliberal dan patriarkis, yang melanjutkan industrialisasi Korea yang "Secara ajaib" berlangsung dengan cepat.

Hal ini sangat patut disayangkan karena pada akhirnya, tidak adanya tempat yang aman bagi perempuan yang berkarier sebagai idola di industri hiburan Korea Selatan.

Industri hiburan Korea perlu melakukan perubahan besar untuk menjadi tempat yang aman dan adil bagi perempuan. Diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak, termasuk penggemar, agensi, perusahaan media, dan pemerintah, untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari pelecehan, diskriminasi, dan objektifikasi.

Baca Juga: Konflik Min Hee Jin dan HYBE Disebut Dapat Merugikan dan Membuka Sisi Gelap Industri Kpop Menurut Para Ahli

Kesadaran publik tentang isu ini perlu terus ditingkatkan. Dukungan terhadap perempuan yang berani melawan dan menuntut keadilan juga sangatlah penting.

Sebagai penggemar, ada baiknya juga kita dapat bersikap bijak dalam melindungi korban dengan tetap mendukung mereka. Bukan malah mengglorifikasi pelaku yang sudah terbukti bersalah.

Perempuan di industri ini juga harus berani bersuara dan saling mendukung. Dengan bersatu dan melawan ketidakadilan, mereka dapat menciptakan perubahan yang positif dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah bagi perempuan di industri hiburan Korea.

Industri hiburan Korea memiliki potensi yang besar untuk menjadi platform positif yang mempromosikan nilai-nilai kebaikan dan kesetaraan. Dengan usaha bersama, kita dapat menciptakan industri yang aman dan adil bagi semua orang, di mana perempuan dapat berkarya dan bersinar tanpa rasa takut dan eksploitasi.

 

Sumber: Kpopchart (Promedia RSS)

Komentar

Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.

Akun komentator

Rekomendasi

Temukan