Sisi Lain Korea Selatan: Lebih Percaya YouTubers dibanding Ahli, hingga Adakah Seorang Pemulung?

Sisi lain Korea Selatan membahas yang kurang diketahui oleh publik dari negara pencetus K-Wave itu. Setiap Negara memiliki masalah, 3 hal...
KPOPCHART.NET- Korea Selatan dikenal sebagai negara maju, dengan K-Wavenya yang mendunia.
Negara ini ternyata punya sisi lain yang jarang diketahui. Salah satunya, Korea Selatan sedang mengalami penurunan angka kelahiran dan banyaknya jumlah penduduk lanjut usia.
Ramai diberitakan secara lokal, di Korea Selatan sedang mengalami masalah kemiskinan para lansia. Tahun depan, Korea akan menjadi negara yang 20 % masyarakatnya berusia lebih dari 65 tahun.
Demi melanjutkan hidupnya, diperkirakan terdapat 42.000 lansia pengumpul barang bekas, mereka mengumpulkan kardus, koran, majalah ataupun kertas bekas.
Dapat dikatakan kegiatan tersebut merupakan mata pencaharian mereka.
Baca Juga: Di Korea Selatan 43.268 Orang Melakukan Percobaan Bunuh Diri, Ternyata Begini Solusi Mereka
Sisi lain kemiskinan Korea Selatan
1. Kena tipu youtuber
Bersumber dari Kookmin Ilbo, kaum muda Korea mengalami kebangkrut dan jatuh dalam kemiskinan karena awam terhadap masalah keuangan.
Memilih tinggal di rumah sewa dan ternyata kena tipu, gagal investasi dalam bentuk koin ataupun saham, hingga terjerat hutang pinjaman pendanaan swasta ilegal.
Bapak B (34) pekerja kantoran yang mengikuti saran temannya berinvestasi di perusahaan KOSDAQ, produsen baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik, Ia menaruh 80 % gajinya.
Namun saham terus menurun hingga harga saham sisa setengahnya. Ia mengakui kesalahannya tanpa belajar saham terlebih dahulu dan ingin menghasilkan uang dari sana.
Atau kisah Bapak C mirip teror pinjol di Indonesia, Ia meminjam uang dengan bunga tinggi. Setelah lunas, masih saja diteror rentenir. Orang terdekatnya, hingga guru di sekolah anaknya dihubungi rentenir.
Dilaporkan pula, sejumlah 1.243 kasus kegagalan investasi berujung meningkatnya utang kepada warga negara berusia 20-an.
Contohnya seperti D (34), Dia percaya dengan ucapan oknum YouTuber. Saham tersebut sekarang rugi, tapi di masa depan akan menguntungkan.
Saat ditanya mengenai kinerja perusahaan yang diinvestasikan, Dirinya menjawab “Apakah kinerja perusahaan penting?”.
Survei yang dilakukan Woori Financial Group Research Institute di-2022, 29,9 % atau 3 dari 10 orang rentang usia 19 sampai 41 tahun memanfaatkan platform YouTube sebagai informasi keuangan dan investasi. Kekosongan pendidikan keuangan dapat dikatakan diisi oleh para YouTuber.
Sayangnya beberapa dari mereka (oknum) menyebarkan informasi palsu, penonton yang tidak memiliki pengetahuan, percaya dan mengikutinya.
Kasus Youngpoong Paper, harga saham merosot 90 % pada Oktober 2023. Beberapa saluran YouTube (oknum) memanipulasi pasar dengan cara menyebarkan informasi Samsung Electronics akan mengakuisisi perusahaan tersebut.
Kasus selanjutnya yaitu menciptakan trend investasi, diperkirakan terjadi kebangkitan baterai sekunder. Harga saham naik hingga 300 %, walau tanpa adanya penjualan produk hingga kuartal ketiga di-2023.
2. Anak anak dalam kemiskinan
Data Sensus Kependudukan dan Perumahan 2015-2020, 447.000 anak kecil di Korea dalam keluarga miskin tinggal di kontainer ataupun greenhouse.
Akrab disebut "standar perumahan minimum" termasuk rumah terlalu sempit, tidak memiliki dapur atau kamar mandi.
Media Korea Selatan Munhwa Ilbo meliput pemukiman penduduk, tempat tinggal yang seperti greenhouse untuk menanam. Dindingnya dipenuhi jamur, mereka yang tinggal disana batuk dan pilek saat musim dingin.
Kim (13) tinggal di greenhouse di Seoncho-gu, Seoul rumahnya berukuran 12 pyeong setara 39,7 meter persegi.
Ada juga Kim Seo-in (17 tahun, nama disamarkan) seorang anak yang tinggal di gereja. Harus berjalan selama 1 jam 10 menit untuk ke sekolah, transportasi umum seperti bus jarang ada. Terkadang saat pulang Ia bertemu babi hutan.
Kisah menarik yang tertuang dalam buku. Seorang anak, Ibunya mengalami gangguan jiwa tingkat 3 dan ayahnya alkoholik.
Di platform Channel Yes 24, Hwang Jeong-eun, menyanjung Ibu tersebut yang memilih meminta bantuan ke pihak lain (lembaga) untuk membesarkan anaknya, tidak hanya menyalahkan diri dan berpasrah.
3. Penipuan lansia
Dilansir dari Ohmy News, realitas lansia pengumpul barang bekas berusia rata-rata 76 tahun mencerminkan tingkat kemiskinan lansia tertinggi di-2020 hingga 40,4 %.
Mayoritas lansia (72,1%) berusia 65 tahun ataupun 7 dari 10 lansia hidup seorang diri terjerat kemiskinan.
Kisah lansia yang kesulitan, padahal dimasa mudanya baik-baik saja. Sedangkan kesehatan terus menurun, harus operasi yang nilainya nggak main-main.
Ada lagi penipu yang memanfaatkan hati kecil para lansia, bentuknya investasi. Padahal lansia itu menggunakan tabungan yang sudah dikumpukan seumur hidup.
Bersumber dari Gukjenews, Kang Yoo-cheol (75 tahun, nama disamarkan) menyetorkan 70 juta Won dan meminjam 130 juta Won (totalnya ~Rp2.334.712.000, menurut kurs 18/01/2024) untuk diinvestasikan ke perusahaan yang disarankan temannya.
Kurang lebih sebulan kemudian, terungkap bahwa perusahaan tersebut melakukan penipuan bertingkat.
Penipuan properti yang menyasar usia 60 tahun keatas meningkat 20.000 kasus dalam 4 tahun terakhir.
Baca Juga: Ramyeon Meokgo Gallae? Fakta Menarik Seputar Mie Instan Korea Selatan, Penjualannya Mencapai Rekor
Dilansir dari Hankook Ilbo, Profesor Cho Moon-young di Universitas Yonsei dalam bukunya “The Poverty Process” tidak membatasi pengertian kemiskinan. Tidak hanya masyarakat miskin perkotaan, penerima dana bantuan, ataupun buruh pabrik. Tetapi juga memperhatikan kelompok prekariat berusia 20-an yang situasi kerjanya tidak stabil.
Asia Times menyoroti, perubahan iklim juga berdampak pada peningkatan angka kemiskinan. Padahal yang menyumbang emisi terbesar (~50 %) yaitu 10 % orang terkaya di dunia.
Korea mengalami jumlah lansia lebih banyak, maka dari itu dibutuhkan pekerjaan yang menyasar kepada mereka.
Pemerintah Korea berencana membuka peluang kerja untuk lansia hingga 10 %-nya terserap. Korea juga mengadakan kebijakan insentif untuk perusahaan yang memperkerjakan lansia.











Comments
Sign in with your Weblu commenter account to leave a comment.