Wajahnya Viral, Identitas Fansite Anarkis di GDA Jakarta Dibongkar Netizen Korea: Saat di Music Bank...

Identitas segerombolan oknum yang diduga fansite di GDA Jakarta dibongkar netizen Korea, ternyata sampai tega lakukan ini di Music Bank.
KPOPCHART.NET - Kelakuan perusuh di GDA Jakarta yang diduga merupakan fansite ternyata dikenali penikmat acara musik Korea Selatan, Music Bank.
Beda dengan Golden Disc Awards (GDA) di Jakarta yang merupakan acara penghargaan akhir tahun, Music Bank merupakan acara musik Korea Selatan yang biasa diadakan setiap hari, tempat para idol KPop melakukan promosi lagu baru.
Namun, sama seperti GDA di Jakarta, acara Music Bank juga tempat hadirnya para fansite Korea Selatan dan berbagai negara untuk berburu potret termanis para idol KPop yang tampil.
Viral, seorang lelaki yang ngamuk di GDA Jakarta karena tak diperbolehkan memotret menggunakan kamera profesional sudah sampai ke netizen Korea Selatan.
Lewat sebuah postingan, netizen Korea Selatan bongkar identitas dan sikap sang lelaki yang diduga fansite tersebut lengkap dengan kelakuannya di setiap acara musik negaranya sendiri, Music Bank.
Dalam unggahannya, netizen Korea tersebut mengatakan bahwa lelaki anarkis di GDA yang wajahnya tengah viral dijadikan meme dan sticker Whatsapp tersebut kemungkinan bukan fansite yang mengidolakan idol tertentu.
"Fun fact, lelaki tersebut dan yang lainnya yang ada di video/foto GDA kemungkinan besar bukan fansite.
Mereka dipanggil sebagai penjual data proxy, mereka sudah dibayar oleh sebuah fansite atau penggemar biasa untuk mengambil foto para bias di tempat tersebut, mereka biasanya dibayar oleh banyak orang untuk idol yang berbeda-beda di sebuah acara," tulis pengguna Twitter @junguwu.
Lebih lanjut, netizen Korea tersebut mengatakan bahwa menyewa para penjual foto idol di GDA lebih murah karena bisa patungan dengan para penggemar idol yang lain daripada harus berangkat sendiri ke Jakarta.
"Itulah kenapa mereka bisa terbang ke negara lain untuk mengambil foto, karena lebih murah dan lebih mudah untuk para fansite menyewa mereka daripada terbang sendiri hanya untuk satu atau dua pertunjukan di sebuah acara penghargaan/festival," kata netizen Korea lagi.
Menurutnya, alasan mengapa mereka membuat keributan di GDA Jakarta karena jika tidak mendapatkan foto para idol yang diminta sang pemotret anarkis harus mengembalikan uang yang sudah dibayar para fansite.
Ternyata tak hanya di negeri orang, lelaki dan para penonton GDA Jakarta yang membuat keributan tersebut ternyata sudah terkenal di kalangan netizen Korea Selatan yang kerap hadir di acara musik negaranya sendiri.
"Itulah mengapa meraka penjual data (biasanya lelaki) selalu jadi pembuat onar di negara-negara lain, karena mereka harus mengambil foto tersebut atau lainnya, jika tidak mereka harus mengembalikan uang para pembeli," tulisnya lagi.
Di GDA Jakarta, seorang penonton yang tak menaati aturan bahkan tega menarik staf acara yang menegurnya sampai terjatuh.
Tak berbeda dengan di GDA Jakarta, di Music Bank bahkan disebutkan bahwa oknum-oknum tersebut juga rela memukul penonton wanita yang hadir untuk mengambil foto.
"Ew pria jelak itu selalu ada di Music Bank, terkenal karena watak batu mereka, memukul wajah para perempuan muda karena mereka bilang mereka 'harus' mengambil foto," tulisnya lagi.
Tak hanya di acara musik dan penghargaan seperti Music Bank dan GDA, disebutkan bahwa para oknum yang terkenal akan tabiat buruknya tersebut juga suka mampir di konser para idol KPop.
Kemudian, netizen Korea Selatan tersebut juga sebutkan bahwa para pembuat onar selalu datang berkelompok agar bisa membagi-bagi tugas, bagian siapa yang memotret siapa.
"Juga, mereka selalu datang berkelompok. Karena mereka bekerja secara berkelompok, contoh salah satu di antara mereka ada yang memotret Gyuvin dari ZB1 dan satu dari yang lainnya mungkin ada yang fokus untuk memotret Gunwook ZB1, itulah mengapa mereka bisa mendapatkan foto yang bagus untuk para anggota grup di waktu yang sama," tulisnya lagi.
Tak hanya warga Korea Selatan, dalam satu grup para pemotret ilegal tersebut disebutkan bisa terdiri dari pria atau wanita dari berbagai negara, termasuk Tiongkok dan Jepang.
Tak bisa dibiarkan, para oknum yang tak mematuhi peraturan acara berkelas Korea Selatan di berbagai negara, termasuk yang terjadi di GDA Jakarta dan Music Bank Korea Selatan tersebut bisa meraup keuntungan yang tak terkira di samping aktivitasnya yang staf dan para penonton yang ingin menikmati acara.
"Mereka menghasilkan banyak uang dengan menjual foto lebih dari yang kalian kira. Itulah mereka sangat niat dan agresif. Tapi sangat menjengkelkan dan mengganggu ketika mereka bertindak seolah-olah kegiatan mereka sangat penting di keramaian dari para penggemar biasa, terutama semua penonton kan bayar untuk penampilan, tempat duduk, dan pengalaman yang sama," tulis netizen Korea Selatan lagi.
Unggahan tersebut memberi banyak insight tentang para segerombol oknum yang membuat keributan di GDA Jakarta yang ternyata sudah biasa bersikap anarkis di negaranya sendiri, Korea Selatan.
Ternyata juga bersikap anarkis di acara musik sekelas Music Bank, para oknum anarkis di GDA tersebut tuai antisipasi para penggemar dan penyelenggara acara konser para idol KPop di Jakarta mendatang, misalnya UNITY NCT 127.

















Comments
Sign in with your Weblu commenter account to leave a comment.