Memilih Tidak Punya Anak, Orang Korea: Aku Bersaing dengan Keras, Jangan sampai Anakku juga

Related dengan kita, sulitnya persaingan. Ternyata inilah alasan Orang Korea memilih tidak punya anak.
KPOPCHART.NET- Baru-Baru ini viral video Presiden Korea Utara menangis, berharap warganya meneruskan garis keturunan.
Tidak hanya Korea Utara, penurunan kelahiran terjadi di Jepang, China dan Korea Selatan.
Korea Selatan, Total Fertility Rate (TFR) berada dibawah standar global.
Minimalnya 2,1, sedangkan Korea Selatan di tahun 2021 hanya 0,8.
Negara impian para pecinta Korean Wave ternyata punya permasalahan sendiri.
Layaknya negara kita, rumah menjadi faktor pasangan yang telah menikah mempertimbangkan memiliki anak atau tidak.
Baik harga rumah maupun sewa berdampak besar pada keputusan mereka.
Sejumlah 30,4% pasangan telah menikah memutuskan memiliki anak dipengaruhi oleh biaya tempat tinggal.
Pilihan mempunyai anak, juga sejalan dengan pihak mana yang bekerja.
Jika keduanya bekerja dan berpenghasilan, kemungkinan opsi memiliki anak lebih besar.
Tidak diterima kembali kerja setelah cuti melahirkan, menjadi faktor lainnya wanita Korea mengurungkan niat memiliki anak.
Penelitian dari KRIHS merekomendasikan, Pemerintah Korea untuk membuat kebijakan.
Pengantin baru yang kesulitan secara finansial, dapat memiliki rumah tanpa harus melakukan pinjaman besar.
Sebetulnya, pemerintah Korea Selatan dari tahun 2006 telah menghabiskan 280 trilliun won untuk meningkatkan kelahiran anak.
Program pro-natalitas, mulai dari memberikan uang tunai kepada orang tua baru yang mengambil cuti.
Insentif pajak bagi perusahaan yang memperkerjakan kembali orang cuti melahirkan.
Dan subsidi pendidikan ataupun perumahan bagi orang tua yang memiliki dua anak atau lebih.
Masalahnya membesarkan anak hingga dewasa membutuhkan uang dan bantuan yang diberikan dirasa masih kurang.
Di sana terkenal "hagwon" atau cram schools.
Hanya 2% orang yang dapat belajar di Universitas Seoul, Korea, serta Yonsei. Tempat kuliah para orang sukses Korea.
Siswa-siswi Korea belajar semacam di bimbingan belajar, agar bisa masuk ke kampus favorit dan berharap masa depannya cerah.
Mengutip dari Korea JoongAng Daily, orang tua di Korea mengeluarkan uang sekitar 410.000 won perbulan (4,8 juta rupiah) hanya untuk pendidikan privat anaknya.
Pria lajang berumur 30 tahunan menyampaikan juga.
"Untuk mencapai posisi ini, Aku bersaing dan berusaha keras. Jika Aku mempunyai anak, Berarti Dia harus melakukan hal yang sama, bahkan lebih," ungkap Jeong.***











Comments
Sign in with your Weblu commenter account to leave a comment.