dr. Djaja 'Ice Cold' Disebut Gambaran Real Life Jung Jae Young di Partners For Justice Kembali Disorot!

Indonesia dihebohkan kembali dengan kasus sianida, dimana dr. Djaja di 'Ice Cold' disebut real life Jung Jae Young Partners For Justice
KPOPCHART.NET - Bagi alumni drama Korea Partners for Justice pasti mengetahui peran dari Jung Jae Young, dimana dikaitkan dengan dr. Djaja di dokumenter Netflix "Ice Cold Murder, Coffee and Jessica Wongso".
dr. Djaja juga belakangan kembali menjadi sorotan perihal kasus kematian Mirna Salihin yang diduga pelaku, dimana karakter dr. Djaja dianggap sebagai Jung Jae Young di drama Partners for Justice.
Di Partners for Justice sendiri Jung Jae Young (Baek Beom) yang berperan sebagai dokter forensik yang meragukan kematian Oh Man Sang jika di season 2, sama seperti dr. Djaja yang meragukan kematian Mirna karena Sianida di Netflix dokumenter "Ice Cold Murder, Coffee and Jessica Wongso" dan beberapa podcast milik DR.Richard dan Feni Rose.
Kesamaan antara drama Partners for Justice dan kasus Mirna yang diangkat oleh Netflix "Ice Cold Murder, Coffee and Jessica Wongso" adalah tentang forensik.
Baca Juga: Photoism Giselle aespa Dibilang Cantik Hingga Mirip Leeseo IVE, KNetz: Acak-acakan...
DR. DJAJA sendiri mengatakan syuting dokumenter Netflix "Ice Cold Murder, Coffee and Jessica Wongso" sudah dua tahun lalu.
Ketika dr.Richard bertanya kepada dr. Djaja terkait Mirna yang diduga meninggal karena Sianida dan bertemu dengannya langsung dengannya sebagai dokter yang menangani.
"Oh endak, dia waktu itu masih hidup dari Oliver, dibawa ke Rumah Saki Abdi Waluyo, masuk UGD, dia muntah-muntah diambil sampel lambungnya sama dokternya, dia meninggal terus dikasih surat kematian.
Dibawa ke Dharmais karena mau tiga hari disimpan, jadi ditaruh di rumah duka, nah saat itu saya dokter satu-satunya yang melakukan pengawetan, aturan dari dinas, kalau lebih dari satu hari 24 jam harus di formalin karena dia akan busuk dan bau.
Itu aturan, dua jam setelah kematian bertemu dengan saya karena mau formalin, nah saya sebagai dokter saya tanya dulu, 'Kenapa ni matinya? Matinya habis minum kopi mati katanya'."
Baca Juga: Momen Ahn Yujin Undang Na PD di Konser IVE dan Kolaborasi Bareng Young Ji jadi Sorotan!
dr. Richard konfirmasi kembali tentang sianida dan dr. Djaja mengatakan, "Tidak, tapi ada yang ngomong saya nggak tahu siapa yang ngomong pokoknya ada sianida, terus saya langsung bilang karena kasus tidak wajar kan, kita diajarin di forensik kalau mati tidak wajar harus otopsi.
Karena tanpa otopsi tidak akan ada sebab mati, itu kan potensi kalau dia dibunuh orang misalnya kan gak bisa digali lagi, nah disitu ngomong sama bapaknya Mirna, dia bilang dia tidak mau otopsi.
Nah saya bilang kalau tidak otopsi saya tidak bisa formalin, aturannya nggak boleh, kan urusannya polisi dulu, kebayang gak kalau udah diformalin kemudian diotopsi tuh kan pasti dokternya nangis pasti perih kan.
Jadi itu bisa mengubah misalnya isi lambungnya ada sedikit, tahu-tahu kemasukan formalin jadi berubah dong."
Ketika menghadapi jenazah Mirna, dr.Djaja waktu itu sebagai pengulas bukan ahli forensik dan menanggapi, "Pada waktu itu aturannya kalau forensik itu masih kasusnya forensik tidak wajar saya harus kirim kasih tahu harus di otopsi.
Selesai otopsi baru bisa saya formalin, keluarga gak mau, bapaknya gak mau, itu ada polisi di situ, saya bilang, 'Pak ini harus di otopsi, setelah otopsi baru formalin', kalau nggak di formalin nggak bisa ditaruh di rumah duka, aturannya dari Dinas Kesehatan.
Endingnya, 'Dok keluarganya kagak mau, dokter formalin aja' syarat utama adalah surat kematian, surat kematian ada tanggung jawab nih matinya dan katanya udah ambil sampel, dan saya formalin atas izin polisi.
Polisi bilang, 'Dok, nanti kami persuasi, mudah-mudahan bisa di otopsi ke depannya', pas besok mau dikubur tahu-tahu, 'Oke, mau otopsi'.
Kemudian, mau di otopsi dibawalah jam 11 malem dibawa ke rumah saki Polri yang periksa dr.Slamet Purnomo yang forensik Patologi itu, tapi ketika dia mau otopsi katanya keluarga menolak lagi, akhirnya gak berani maksa karena keluarga keraslah.
Akhirnya dia bilang setujunya ambil sampel aja, waktu itu dibuka perutnya doang, diambil isi lambungnya, ambil jaringan hatinya, ambil darah, ambil urine, udah ditutup lagi.
Dikirim, yang pertama racun dikirim hasilnya sianida negatif, muntahan di rumah sakit baru hidup tuh, gak ada, sekarang saya mau ngasih tahu apa yang diharapkan racun sianida, yang diambil kan darah, lambung, hati, dan urine semuanya negatif sianida.
Di lambung ketemu sianida 0,2 ml, 0,2 itu kecil dan logikanya dia ada sianida besar kemudian jadi kecil itu masuk akal tapi tidak ada kemudian jadi ada itu kan tanda tanya? Bisa juga karena pembusukan, pembusukan bisa menghasilkan sianida walaupun kecil."
Menurut penuturan dr. Djaja sendiri sianida bisa menyebabkan kematian ketika masuk ke darah, sedangkan ketika diambil sampel dimana Mirna masih hidup baik di darah, lambung, hati, dan urine semuanya negatif sianida.
Tapi, yang menjadi tanda tanya, ketika pengambilan sampel yang kedua di rumah sakit Polri ditemukan sianida yang jumlahnya kecil, dan diduga munculnya sianida berawal dari pembusukan.
"Salah satu tanda seseorang kemasukan sianida adalah adanya tiosianat di dalam hati, dalam darah, dan urine, kalau di periksa di liur juga ada sedangkan itu tidak ada.
Saya cuma bilang, 'Kalau saya dokter mayat bukan dokter gelas' Itu yang saya katakan di pegadilan, saya bukan dokter gelas, walau di gelas ada racun berapapun kalau di badan gak ada ya gak ada.
Saya bilang gak mungkin sianida, saya bilang gak mungkin, kalau yang mati lain gak tahu karena gak di otopsi, otak bisa ada kelainan dan lainnya."
Pernyataan yang diberikan dr.Djaja sama persis dengan prinsip yang dipegang Baek Beom (Jung Jae Young) Partners for Justice, dimana otopsi itu penting karena mayat tidak akan pernah berbohong terhadap kita.
Baek Beom sendiri juga meragukan kematian Man Sang dan mencoba mencari kebenaran apakah Man Sang benar-benar mati karena apa.
Semua itu bisa terjawab kalau seorang dokter forensik melakukan otopsi atau pembedahan terhadap mayat tersebut.
Baca Juga: Center STAYC Bukan Lagi Sieun dan Sumin Jadi Pembicaraan Netizen Korea: Perubahannya Terlihat...
Komentarpun datang:
"dr.Djaja adalah dr.baek beom versi indo."
"KALIAN HARUS NONTON PARTNER FOR JUSTICE!!! DAN AINK MASIH MENUNGGU SEASON 3 NYAAA LAMA BAT."
"Inget bngt baek beom 'tubuh mayat tidak akan berbohong'."
"jadi ngefans sama dr Djaja."
"partner of justice drama pertama yg buat aku tertarik tentang ilmu otopsi masih setia nungguin S3,smpai skrng gk nmpk hilal nya."
"dosen akuuuu, semoga bisa nyusul beliau jadi ahli forensik hebat juga, sehat2 dokter djaja."
"sy jdi ngefans sama dokter Djaja stelah nonton podcast dokter Richard, nonton Ice Cold, trus di podcast Feni Ros."
"sumpah bener banget, pas dengerin langsung dan nyimak dr Djaja emang keren bangett kayak dr beom."
"Sebenernya Dr. Di indo juga gak kalah smart kayak di drakor yah, cuman ya gitu deh."
"mana mirip lagii."
"KAN BENER BUKAN CUMA AKU AJA YG LANGSUNG INGET PARTNERS FOR JUSTICE PAS NONTON INI HUEHUE KEREN BGT DR. DJAJA," dan komentar lainnya.








Comments
Sign in with your Weblu commenter account to leave a comment.