← Kembali ke Blog
CNNHYBELee Soo ManSM EntertainmentBang Si HyukK-Pop

Mengapa Niat HYBE untuk Kerja Sama dengan SM Entertainment Menuai Banyak Pertentangan? Ini Jawabannya!

Nabila Sahma Libriyanti · March 5, 2023
Mengapa Niat HYBE untuk Kerja Sama dengan SM Entertainment Menuai Banyak Pertentangan? Ini Jawabannya!

Media Korea soroti mengapa niat HYBE untuk bekerja sama dengan SM Entertainment menuai banyak pertentangan di industri K-Pop.



KPOPCHART -
Aksi HYBE yang baru saja mengakuisisi saham SM Entertainment menorehkan sejarah baru dalam industri K-Pop.

Diketahui, SM Entertainment bukan agensi pertama yang sahamnya diakuisisi SM Entertainment. Pledis Entertainment, Source Music, KOZ Entertainment, dan beberapa agensi hiburan lainnya telah lebih dulu diakuisisi oleh HYBE.

Sehingga, akuisisi HYBE pada SM Entertainment menjadi langkah baru yang bisa menciptakan sebuah monopoli dalam industri musik.

Baca Juga: Lee Soo Man Ungkap Alasan di Balik Keputusannya, Sebut HYBE dan BTS yang Terbaik

Terlebih lagi, SM Entertainment merupakan perusahaan besar yang sudah menjadi leader musik K-Pop selama lebih dari 30 tahun.

Sehubungan dengan aksi HYBE terhadap SM Entertainment tersebut, apa arti dari ‘monopoli’ itu sendiri dalam konteks industri K-Pop? Lalu bagaimana implikasinya pada penggemar dan artis?

Monopoli sendiri merupakan situasi dimana sebuah perusahaan atau entitas tertentu bisa mengontrol sebagian besar pasar.

Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana HYBE mampu menguasai sebagian besar industri K-Pop dengan agensi-agensi yang telah diakuisisi olehnya.

Baca Juga: HYBE Ungkap Telah Bayar Tambahan Uang Kepada Lee Soo Man Sebesar 817 Miliar Rupiah Untuk Ini!

Lalu, monopoli bisa menyebabkan entitas yang memiliki power tersebut tidak bersaing dengan sebenar-benarnya dalam industri yang ia tekuni.

Jika HYBE berhasil memonopoli pasar, mereka bisa menentukan harga pasar mereka sendiri dan menentukan segala apapun berdasarkan kehendaknya tanpa terpengaruh industri lain.

Karena itulah monopoli bisa menghambat inovasi dan kemajuan dari keseluruhan industri K-Pop. Kompetitor yang tidak mampu bersaing dengan HYBE akan hilang dan hanya menyisakan perusahaan-perusahaan yang bergabung dengan agensi besar tersebut.

Jika sudah terjadi seperti itu, penggemar tidak punya pilihan lain selain menjadi penggemar artis HYBE.

Sebenarnya konsep monopoli bukanlah hal baru di Korea Selatan. Faktanya, jauh sebelum HYBE mengakuisisi SM Entertainment, ekonomi negara Korea Selatan didominasi oleh konglomerat turun temurun dengan kekuatan dan pengaruh yang sangat kuat dalam industri mereka seperti Samsung, Lotte, dan Hyundai.

Baca Juga: Sudah Banyak Dilirik Agensi Lain, Akankah Artis SM Entertainment Tinggalkan Agensi?

Perusahaan-perusahaan tersebut berhasil memonopoli industri listrik dan mampu mematikan industri kecil.

Sehingga, akuisisi HYBE pada SM Entertainment bisa membuat industri K-Pop mengalami dampak negatif serupa.

Sementara itu, HYBE telah menyatakan bahwa tujuan mereka melakukan akuisisi ini adalah untuk menciptakan sistem "multi-label", dimana setiap label dapat mempertahankan gaya dan identitasnya yang unik.

Pendiri HYBE, Bang Si Hyuk membantah dugaan monopoli itu sendiri dalam sebuah wawancara dengan CNN.

Meskipun demikian, beberapa penggemar khawatir komitmen ini dapat berubah seiring waktu.

Baca Juga: Bang Si Hyuk Buka Suara Soal HYBE Akuisisi Saham SM Entertainment

Salah satu kekhawatiran utama penggemar K-Pop tentang akuisisi HYBE pada SM Entertainment tampaknya adalah karena kurangnya persaingan dapat memengaruhi inovasi dan keragaman musik dari idola mereka.

Hilangnya individualitas label yang sahamnya telah diakuisisi HYBE juga mengkhawatirkan, karena penggemar yakin identitas dan gaya unik dari masing-masing label bisa hilang atau dihomogenkan.

Menariknya, bukan hanya penggemar sang idola yang mengkhawatirkan hal ini. Diketahui, mengutip dari Koreaboo, salah satu orang dalam industri K-Pop mengatakan bahwa beberapa artis dari SM Entertainment berpikir untuk meninggalkan perusahaan setelah saham perusahaan tersebut diakuisisi oleh HYBE.

Baca Juga: HYBE Seret Sejarah Kelam Korea Dalam Perseteruan Dengan SM dan Kakao, Netizen: Mereka Jadi Gila...

Karyawan tampaknya memiliki sentimen yang sama, yaitu 85% staf SM Entertainment yang disurvei menyatakan bahwa mereka tidak menyetujui merger yang dilakukan HYBE tersebut.

Bulan lalu, 208 karyawan membuat pernyataan kolektif yang menyatakan dukungan mereka untuk kepemimpinan SM saat ini dan menentang apa yang mereka sebut sebagai ‘Hostile Deal’ HYBE.

Berbagai kekhawatiran tersebut didasari oleh banyaknya agensi yang sudah diakuisisi oleh HYBE. Sehingga, bisa dibilang masa depan dari industri K-Pop ditentukan dari motif dan ambisi dari HYBE itu sendiri yang bisa dilihat dalam beberapa waktu ke depan.

Apakah musik K-Pop benar-benar akan dihomogenkan atau semakin inovatif seiring berjalannya waktu? Hal tersebut akan kita lihat sebentar lagi.

Bagaimana menurutmu?

Sumber: Kpopchart (Promedia RSS)

Komentar

Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.

Akun komentator

Rekomendasi

Temukan